Rabu, 09 April 2014

Untukmu Yang Merindu

Hanya ingin menulis


Aku tau, bahkan sangat tau siapa diriku. Aku bukan fatimah, tak pantas  bagiku mengharapkan Ali. Aku wanita biasa. Sungguh.
Karna biasa inilah, aku berupaya mempertahankan apa yang seharusnya dijaga dari apa yang aku miliki. Bagian terdalam dan terapuh dari hidupku.  Bagian yang tersembunyi, karena memang hanya Aku dan Allah yang tau. Perkenalkan, Ia adalah hatiku.
Aku menjaganya sekuat daya. Dua puluh tahun  bukan hal yang mudah untuk menjaganya. Menjaga agar tidak seorangpun meracuni dan merusak tatanan manajemen cinta dalam hatiku. Manajemen yang aku bangun sedari awal. Aku takut, cinta terhadap seseorang menggeser posisi Allah dari posisi teratas manajemen hatiku.
Maka sebelum terlambat. Aku haturkan surat ini untukmu. Untukmu yang merinduku.

Salam....
Untukmu di belahan dunia sana

Akulah seseorang yang dituliskan namanya di Lauhul  Mahfuz  untuk mendampingimu kelak. Mengarungi bahtera yang dijanjikan mendatangkan kebahagiaan dan kesempurnaan ibadah. Ku harap kau meluangkan waktumu barang sejenak untuk membaca tulisanku ini.
Akhi, aku sangat resah dengan hatiku belakangan ini. Aku takut, sangat takut,  Allah menghentikan nafasku sebelum aku sempat  menyampaikan pesan ini padamu.
Akhi, aku yakin. Kau dan aku saat ini tengah menatap langit yang sama, melantunkan do’a yang sama, dan mengurai mimpi yang sama untuk suatu hari yang dinantikan kelak kita berjumpa. 

Selasa, 08 April 2014

7 Days With Australian Girl


“Aku gak  magang liburan kuliah ini, tapi mengurus satu acara sama organisasiku di luar kampus ” tuturku setiapkali di todong pertanyaan yang sama oleh teman-teman kampus yang sudah mendapat tempat magang.
            Sebetulnya ini bukan kali pertama aku nganggur di liburan panjang semester genap. Tahun lalu aku juga absen dari magang, dan berdiam di rumah selama dua bulan. Akhir semester empat ini terjadi lagi. Bukan karena tidak dapat tempat magang,  tapi karena aku ingin mengejar target menulis novel dan mengurus organisasi yang baru dibentuk dua bulan terakhir. Aku  tidak hanya memilih untuk aktif di organisasi kampus, namun mulai mencari kesibukan baru di organisasi yang lebih luas lingkupnya sejak semester tiga. Brilliantz management, organisasi yang bergerak di bidang training dan pelatihan ini beranggotakan sepuluh orang dari enam universitas di Jakarta dan Depok. 
            Butuh waktu sekitar sebulan untuk menyiapkan acara besar pertama kami yang melibatkan peserta SD-SMP ini. Acara untuk mengisi liburan di bulan Ramadhan , atau lebih familiar dengan pesantren kilat kami beri nama “Ramadhan Ceria”.  Kami menggunakan sebuah yayasan pemuda muslim di Jakarta Selatan sebagai lokasi acara “Ramadhan Ceria” dilaksanakan.
 “Besok pagi panitia sudah di lokasi . Kita harus menyiapkan  perlengkapan , mengkondisikan tempat  , memasang banner dan lain sebagainya karena peserta akan datang pukul tiga sore diantar orangtuanya”  Sebuah pesan singkat masuk di ponselku, dari  Ian selaku ketua pelaksana acara. Aku mulai berkemas menyiapkan pakaian dan perlengkapan untuk tujuh hari menginap di sana. Kak siska sebagai penanggung jawab acara melaporkan bahwa ada dua belas peserta yang mendaftar.
Pukul dua siang , saat aku sedang menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan di meja registrasi, sebuah mobil sedan hitam memasuki lokasi. Sepasang suami istri menghampiriku dan mendaftarkan  kedua anaknya, Alisha dan Raisha yang masing-masing berusia 10 dan 9 tahun. Aku tersenyum menyambutnya, lalu membantunya memasukkan perbekalan kedua anak ini. Setiap peserta membawa alat tidur sendiri dan perlengkapan selama seminggu. Selama acara ini berlangsung, orang tua hanya boleh menjenguk dan tidak dianjurkan menginap karena dikhawatirkan akan menggangu aktivitas peserta. Selama seminggu peserta akan diberikan pelatihan character building, materi kepemimpinan dan goal dari acara ini adalah peserta mampu menghafal surat ar-rahman.
Menjelang jam tiga sore, kak siska mendatangiku di depan ruangan ramadhan ceria.
“May, nanti ada peserta yang bule juga loh. Kamu siap-siap ya..”
“Hah bule? Serius? Bule dari mana?”
“Dari Australia, tapi mamihnya orang Jakarta kok. Tenang aja. Nanti kamu yang ngurusin dia ya may”, tuturnya sambil tersenyum.
“Hah gak mau, bahasa inggrisku berantakan. Aku bingung nanti ngomong apa kak. Ih kok gak bilang dari awal  kalau bakalan ada bule juga, kan bisa belajar bahasa inggris dulu nih..”, ujarku dengan nada sedikit sesal.
“Iya lupa, udah gak apa-apa ya may. Sekalian nanti aja belajarnya. Aku juga gak pede ngomong inggris. Tapi kan kamu lebih pemberani tuh may… hehe ”