Selasa, 28 Agustus 2012

“Pedang Fitnah“ (edisi penguat hati)



Rabu,28 agustus pukul 07.40 sebuah pesan singkat masuk ke hpku yang dengan syahdu tegah melantunkan Qs. Ar-Rahman saat dengan khusyuk aku menyimak dan mengikutinya.
“kenapa pake cerita ke orang-orang keluar dari…….? Bawel bener.kan uda dibilang, ga usah umbar-umbar.dari dulu emang ane udah males kalo antum tau, ujung-ujungnya semua orang tau , so, udah ya ga usah peduli sama ane lagi.cukup.antum jauh dan tanpa hubungan apapun dari ane itu lebih baik, ane lebih nyaman”
Seketika rasanya bagai terhujam pedang di pagi hari, saat suara lantunan kalam Allah tengah aku resapi, dalam tenangnya suasana rumah serta semiliar angin pedesaan menembus ruang-ruang kecil zona nyamanku.aku tau betul siapa orang yang mengirimkan pesan singkat ini, maka dengan teliti aku mengingat kesalahan apa yang telah aku perbuat hingga dia dengan ringannya mengirim pesan ini, tanpa pikir apakah si penerimanya akan tersinggung atau tidak.entahlah….
Dengan sangat hati-hati aku balas pesannya.Seiring berjalannya waktu dan pengalaman, aku menjadi semakin berhati-hati dalam mengelola perasaan, sekalipun dalam keadaan terhenyak, aku selalu berusaha untuk bersikap tenang, hati-hati dalam berkata, terlebih jika orang yang tengah ku hadapi berwatak keras.itulah yang diajarkan orang tua terhadapku.Pribadi ibu yang lembut, sifat ayah yang yang keras, menjadi pelajaran paling berharga sekaligus harta karun yang aku simpan dengan rapi.
Rupanya pesan balasan tak kunjung datang, mungkin pengaruh sinyal atau apa.yang pasti aku masih bertanya-tanya tentang apa yang telah ku perbuat dan sedikit aku ingat ke belakang.
Bermula dari acara demo Rohis saat acara MOS di SMK tempatku dulu mengukir ilmu.Saat itu aku datang sebagai undangan alumni turut serta menemani panitia rohis, tepatnya adik-adik kelasku.
Beberapa saat sebelum acara dimulai, aku bertegur sapa dengan alumni ikhwan setingkat di atasku.sebut saja namanya A. aku bertanya “sendirian aja ka? Alumni ikhwan yang lain mana?
A menjawab “Pada ga bisa datang, lagi sibuk kali”
“loh ketuanya ga dateng?” tanyaku.sebut saja B yang aku maksud.
“udah kerja dia sekarang”
“kerja apa magang nih ka?” tanyaku lagi.
“kerja dia bilang, di Jakarta”
“loh ko bisa? Kuliahnya gimana?” lagi aku bertanya.
“kan katanya dia mau keluar kuliah, lagi juga kan kalo kerja minimal 3 bulan training dulu”
Aku menarik napas panjang, lekas aku pamit pada A, untuk bergabung dengan anak rohis yang lain di samping lapangan.
Aku duduk di bangku panjang depan lab bahasa kala itu aku ingat, sosok perempuan setengah baya menghampiriku.ya, pembina rohis.usai bersalaman.secara tiba-tiba beliau berkata :
“eh si B mau berhenti kuliah katanya? Kenapa?”
Belum usai pertanyaan hatiku akan berita yang dibawa si A, tiba-tiba aku dihadapkan lagi dengan berita yang dibawa orang kedua.
“ah masa sih bu, ibu tau dari mana? Saya aja baru tau barusan dari si A” tanyaku.
“iya katanya dia mau keluar gitu, eh bilangin ke dia ya kalo ketemu, jangan keluar gitu, sayang-sayang , dikit lagi juga lulus” tuturnya.
Aku masih belum percaya dengan kabar ini. Dalam hatiku berkata, kenapa dia tega tidak memberi tauku,,malah aku tau dari orang lain.bukannya mau so tau, sebagai orang yang dulu pernah ditolong dan dibantu dia bisa kuliah di tempat yang sama, begitu tau dia mau berhenti kuliah siapa yang tidak kecewa.
Tidak lama sebelum hari ini, dia mengirimkan pesan padaku.
“magang dimana ?”
Lekas aku jawab “aku belum tau magang dimana, emang antum magang dimana?”
“ane ga magang, mau nyari kerja”
Mungkin berita ini ada kaitanya dengan pernyataan dia sebelumnya.tidak ingin lama-lama menyimpan pertanyaan nurani, lekas aku tanyakan pada sumbernya.
“bu …..bilang, katanya mau berhenti kuliah?, emang bener?
Lama sekali smsku terbalas.
“kata siapa? ah itu mah gossip doang kali, udah ga usah dianggep” jawabnya tanpa beban. Aku paham dengan tabiat orang ini, sekuat hati aku mencoba untuk tidak tersinggung atau sakit hati.
“oh yaudah, beliau bilang.jangan keluar, sayang!”
Aku tak berlarut-larut dalam memikirkan urusan itu, jelas bukan urusanku, sekalipun aku memikirkan cara utuk memberinya solusi, namun itupun tidak bisa dengan gampang aku sampaikan.
“yang bener itu, ane mau resign dari ormawa”
Setelah lama akhirnya dia sms lagi.aku tidak balas, karna tidak ingin perpanjang masalah.lebih tepatnya tidak ingin mencampuri urusannya.cukup aku hanya tau.titik !
Masih dalam suasana lebaran.tiba-tiba sebuah sms masuk
“butuh kejelesan hehe “
Aku tidak tau ini nomer siapa, karna lagi ganti hp.setelah ditanya ..oh aku ternyata itu dia.
“maksudnya apa sms gtu?
“liat blog kamu”
Secara akal aku masih tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia mengirim pesan, seakan-akan akulah biang kerok atas tersebarnya kabar tidak sedap yang menimpanya.dengan sekuat hati aku menjaga agar tidak mengumbar berita itu, cukup aku tau dari orangnya langsung.rupanya Allah mengujiku hari ini, mungkin aku punya niat baik dalam hati kecil untuk membantunya, tapi  itupun masih dalam bentuk niat, aku tidak melakukan hal yang berkaitan dengannya selama liburan ini.sungguh aku tidak tau, masalahnya apa, perkembangannya seperti apa, aku cukup sibuk dengan urusanku membangun bisnis UKM dengan sahabat dan kini menikmati suasana kehangatan keluarga di kampung.
Sangat benar jika ada yang mengatakan “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan” inilah yang tengah aku rasakan.

Sungguh ini hal yang paling menyakitkan.Okelah, dulu aku pernah bermasalah dengannya, pernah bertengkar,bermusuhan, diam dalam kebencian.cukup ! itu masa lalu ! bukankah dulu dia telah meminta maaf dan aku memberinya maaf.
Bukankah kita telah berkomitmen untuk melangkah bersama dalam jajaran pejuang dakwah tarbiyah dengan cara sendiri dan jalan masing-masing.aku dengan kehidupanku dan dia dengan kehidupannya.
Di kampus aku hanya ingin mencari ketenangan ,bukan ancaman dan masalah.berteman aku hanya mencari ketentraman, bukan perhelatan.di kampus aku mencari ilmu, bukan mencari keburukan orang lain untuk aku umbar-umbarkan agar terlihat aku lebih hebat darinya.BUKAN ! sekali lagi aku katakan BUKAN!
Apalah gunanya benci pada orang lain hanya karna ingin membuktikan diri lebih hebat, bukankah semua manusia sama dimata Tuhan, hanya amalan yang membedakannya.lantas kenapa aku bersusah payah, mencari keburukan orang lain demi kepuasan sendiri.Masih banyak hal positif yang bisa aku lakukan.
Manusia bisa saja benci sama orang lain karena suatu hal yang terjadi di masa lalu, silahkan benci sama orang lain jika utuk hal yang positif, yang memacu untuk semangat bekerja dan mencapai hidup yang lebih baik darinya tanpa menunjukan kebencian itu dengan cara yang salah.tunjukanlah kebencian itu dengan kasih sayang, merangkulnya yang lemah agar bisa kuat.suatu saat orang yang anda benci akan menyadari bahwa andalah orang yang paling tak pantas dibenci, kesombongan dan kesalahannya dimasa lalu akan membuatnya sadar bahwa kau lebih hebat darinya bukan karna keangkuhanmu namun karena kebesaran dan kemuliaan hatimu.namun ada hal yang utama dari segalanya, manusia hanya mampu berusaha, namu Allah-lah yang berhak menentukan.
Semoga bermanfaat…

Impian 1 ( Gagal jadi Dokter )


Bismillaahirrohmaanirrohim……
Maha Suci Allah, Engkau-lah dzat yang paling berkuasa membolak-balikkan hati manusia, termasuk aku.hamba yang paling tak memiliki kuasa menentang kehendakmu, bahkan diriku sendiri.
Impian… harapan… cita-cita..
Ya… setiap insan pasti memilikinya.Entah itu kecil atau besar, impianlah yang menentukan kearah mana hidup akan dibawa.
Mengenai cita-cita…
Akupun punya cerita sendiri, pahit memang jika diingat.tapi itulah cambuk yang buatku kuat dan bertahan hingga saat ini.
Ayah.. ibu.. kakak… sahabat.. bahkan guru-guruku tahu akan cita-cita masa kecilku ini.
Aku ingat betapa polosnya kala itu, bocah berumur lima tahun dengan lantang dan percaya diri berkata “kalau sudah besar, aku mau jadi Dokter”

 Ya..itulah impian terbesarku.. entah apa yang terpikir saat itu, bagiku menjadi dokter adalah propesi yang mulia.
tapi cita-cita itu rasanya semakin jauh untuk diraih, kala aku harus melanjutkan pendidikan di SMK jurusan akuntansi, dengan alasan agar setelah lulus mudah cari kerja.Begitulah yang dituturkan banyak orang terhadapku.
Bagiku itu bukan sebuah alasan, atau solusi akhir.karena jika aku sekolah di SMA lalu melanjutkan kuliah kedokteran, bukankah kelak juga akan mendapat pekerjaan… menjadi dokter tentunya..
Pun aku yang terlahir bukan dari orang tua ” kaum bergaji” atau “pengusaha” sadar betul, cita-cita menjadi dokter terlalu berat bagi kami…
“Biaya” itulah factor terbesar yang ditakutkan keluargaku… takut ga bisa bayar uang kuliah.. takut gagal di tengah jalan.. takut kelak setelah luluspun gabisa jadi dokter. Dan banyak takut takut lainnya.
Ayah ibu tahu potensiku… mereka tahu nilai IPAku tak pernah mengecewakan..tapi mereka lebih tahu asam garam kehidupan dibanding aku.. karna itulah aku menjelma menjadi anak yang patuh… patuh leh tepatnya pasrah.. mengubur sedikit demi sedikit impian terbesarku… tidak lain ini aku lakukan karna tidak ingin menumpuk batu yang hanya akan membebani bahu mereka yang kucintai…..