Jumat, 29 Mei 2015

Menantu dan Mertua



Sedikit cerita di masa remaja, tepatnya saat aku masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sore itu di penghujung bulan ramadhan, aku lihat ibu siap-siap mau pergi, dalam hitungan jam anak-anaknya yang di Jakarta segera tiba di rumah (Sumedang).
“Ma, mau kemana?”
“Nyari bebek manila, Aa (kakak Ipar) tadi nelpon katanya mau makan daging bebek manila”
Aku yang masih polos bertanya-tanya dalam hati, kan yang minta bebek manila itu kakak ipar kok ibu repot-repot nyariin ke tetangga-tetangga yang ternak bebek. Setiap kali anaknya yang tinggal di kota ngabarin mau pulang, ibu pasti nanya “mau dimasakin apa?”, “mau makan apa?”, “nanti kalau pulang ke Jakarta mau bawa apa?, biar dicariin dari sekarang”.. Selalu begitu.
Aku anak satu-satunya yang tinggal di rumah terkadang diliputi cemburu melihat kebaikan dan perhatian ibu sama anak-anaknya yang di perantauan.
“Ma, kok aku gak ditawarin mau apa sih?” kataku suatu hari.
Teteh sama Aa kan pulangnya setahun sekali, jarang-jarang makan di rumah, kalau kamu kan tiap hari ada di rumah” lanjutnya.
Rumah ini menjadi sepi sejak satu per satu dari kami mulai tumbuh dewasa. Bagi ibu, hari lebaran itu ialah hari yang paling bahagia. Bahagia karna anak, menantu dan cucunya kumpul jadi satu.
Pernah aku bertanya pada beliau tentang perasaan seorang ibu terhadap anak dan menantunya, siapa yang lebih disayang?
“Baik anak atau menantu sama-sama sayang. Kalau sama anak, waktu anak salah seorang ibu berani marahin bahkan terpaksa main fisik, tapi kalau menantu yang salah mana berani marahin,  namanya juga anak orang" jawabnya.
Dulu, aku pikir hal itu hanya adat istiadat orang sunda. Tapi setelah aku kenal tarbiyah, belajar tentang kewajiban istri terhadap suami dan mertua. Memang benar, urusan ini di atur dalam Al-Qur’an. Memasuki masa remaja, kami diajarkan dan diberi pemahaman bahwa ketika seorang anak perempuan menikah,  maka sepenuhnya milik suami, tapi suami tetap milik ibunya. Istri wajib taat terhadap suami, dan suami taat terhadap ibu (orang tuanya) dalam hal-hal yang diatur dalam syariat Islam.
Terlintas dalam pikiran aku ketika itu, kenapa Allah gak adil?..Namun hal itu sudah terjawab saat aku kuliah. Sesungguhnya segala perintah dan larangan Allah tak ada satupun yang bertujuan untuk menyulitkan manusia. Tugas seorang anak laki-laki setelah menikah sungguh berat, suami bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya secara lahir dan batin. Di samping itu Ia juga harus berbakti terhadap orang tuanya. Coba dibayangkan, jika yang jadi ibu (mertua) itu adalah kita (perempuan), bukan hal yang mudah melepaskan anak lelaki yang sudah dibesarkan, disekolahkan, diberikan semua kasih sayang penuh untuk hidup bersama perempuan asing yang baru dikenalnya. Sangat wajar jika seorang ibu terkadang merasa cemburu atau takut kehilangan anak lelaki yang dicintainya. Tak sedikit yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, seorang anak laki-laki lebih memilih pergi bersama istri yang dicintainya. Bahkan di bawah pengaruh istri yang tidak baik, banyak pula suami yang tega menyakiti ibu (orang tuanya) sendiri.. naudzubillah..
Begitu pula yang dirasakan seorang ibu saat anak perempuannya menikah, perasaan takut kehilangan itu pasti. Anak yang selama ini dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan dimanjakannya, begitu menikah Ia harus merelakan putrinya dibawa sang menantu. Ada perasaan takut, apakah sang menantu akan memperlakukan putrinya dengan baik atau sebaliknya. Bagaimana dengan mertuanya, apakah Ia akan menyayangi putrinya sama seperti sayang terhadap anaknya.
Ibu selalu berpesan “jika kamu menjadi istri, jangan pernah sekalipun menyakiti hati orang tua suami, terutama ibunya. Jika kamu bersalah sama ibu kandung, ibu kandung masih bisa memaafkan. Tapi kalau menyakiti hati ibu mertua dan Ia tidak memberi maaf. Maka menebus dosanya sangat sulit”. Kurang lebih seperti itu yang selalu ibu ajarkan dan nasehatkan kepada anak-anak perempuannya saat mereka menjelang dewasa. Ibu bagiku adalah guru kehidupan.
Sejak itu aku mengerti dan tidak perlu merasa cemburu jika ibu memperlakukan menantunya dengan istimewa, karna aku yakin hal itu akan Ia lakukan juga terhadap lelaki yang mencintaiku kelak. Pun ketika aku menjadi istri, semoga bisa mencintai dan dicintai orang tua suami sebagaimana kasih sayang orang tua dengan anak kandung. …aamiin.

Depok, 29 Mei 2015

Kamis, 28 Mei 2015

"Bungsu"



Mitosnya ya, anak bungsu itu manja. Bener kok, mereka gak salah...qiqiqi… iya manja, tapi dalam hal tertentu. Abis gimana ya, emang udah bawaan lahir sama lingkungan. Bisa dibayangin kan, contohnya aku.. biarpun umur udah mau 22 tahun, tapi di rumah tetap di panggil “Dedek”.. Kan kalau orang yang nggak kenal langsung ngira aku manja. Padahal mah iya,,, *ehhhh XD. Tapi sebenernya yang dimanja itu si anak ketiga “Aa Agus”.. anak laki satu-satunya.. Duuhh ampun deh, mau apa aja diturutin. Aku mah apa atuh, dari kecil emang gak banyak minta, banyaknya mengalah. Dan waktu kecil kalo berantem sama Aa, pasti dia yang menang. Iyaalahh, baru diledekkin dikit udah nangis ..ckckck… (ini jurus paling ampuh ngadepin abang rese).
Dulu ya waktu kecil, tiap kali orang nanya “Kamu anak keberapa?”. Dengan bangga langsung nyaut “Aku bungsu”.
“Wah enak dong anak bungsu mah dimanja”.. beribu kali dengeer kata-kata ini. Nah ini dia sebenernya yang mencemari pikiran aku, dengan gini kan setiap kali orang tua atau kakak ngelakuin kesalahan pasti aku berpikir “katanya anak bungsu dimanja, kok aku nggak?”
Oke lupain hal itu, masa kecilku bahagia. Karna aku lahir dan besar bersentuhan dengan alam, pemandangan hijau, gunung-gunung, petakan sawah, sungai, binatang ternak, lumpur, langit biru, suara jangkrik di waktu malam.. itu hal yang di lalui hampir setiap hari. Main seharian di tanah lapang, belajar ngaji di TPA kampung sebelah yang harus ngelewatin pesawahan, nangis kejer dan nyalahin semua orang cuma gara-gara kucing mati ketabrak motor, makan bareng sama temen-temen sambil tukeran makanan… aarrghhh itu masa-masa paling romantis yang pernah aku lewati.
Memang sih, rumah bukan lagi jadi tempat yang menyenangkan sejak aku memasuki masa remaja.  Bapak kecelakaan waktu berangkat ke sawah buat kasih makan ternak bebek. Sejak kejadian itu, roda kehidupan di rumah mulai berubah. Bapak kehilangan satu kenikmatan kesehatan, syaraf-syaraf tulangnya terganggu yang akhirnya berakibat leher Bapak kaku, sulit bergerak dan tulang punggung mulai membungkuk tak mampu menopang beban badannya. Berminggu-minggu, berbulan bahkan bertahun aku harus menyaksikan dan mendengar jerit kesakitan Bapak setiap harinya. Tak jarang, aku cuma mengurung diri di kamar dengan muka ditutup bantal. Cuma buat numpahin air mata yang menerobos paksa tanpa harus siapapun tau kalau aku lagi sedih. Ibu harus banting tulang kerja agar roda rumah tangga ini terus berputar. Sedikit sekali waktu yang Ia miliki buat ngobrol atau nemenin aku main, sedangkan di rumah cuma ada aku. Teh Mimi ikut suami tinggal di Jakarta, pun Teh Ai dari SMK sampai lulus di sana. A agus sekolah di SMK 1 Sumedang, berada di pusat kota jadi harus kost dan pulang seminggu sekali.
Tapi di balik kekurangan yang keluargaku miliki, Allah menitipkan satu kenikmatan lewat si bungsu. Dari kelas 1 SD sampai 3 SMP, dia berkesempatan jadi juara kelas. Hal ini membantu nama baik orang tua terangkat. Walaupun aku sendiri ngerasa bahwa hal tersebut mungkin cuma kebetulan. Ada aja yang gak ngenakin dari bisik-bisik tetangga “Ah udah biasa maya mah”, “Maya mah cucu ustadz, wajar atuh”, “Suka ngasih apa Bu ke guru?, Maya bisa dapet rangking terus”. Kita mah cuma bisa senyum, biarlah mereka menilai apapun. Namun lebih banyak yang menanggapi positif, “Tuh kaya Teh Maya, jarang maen, diem di rumah baca buku. Jadi gimana gak dapet rangking terus”.
Udah lewat soal itu. Intinya masa SD dan SMP aku lebih sering jadi korban: korban ledekan & korban contekan, lucunya aku pernah gak mau pergi sekolah karna dimusuhin temen sebangku SMP gara-gara dia ambisius pengen rangking 1 tapi gak berhasil…. qiqiqi.. maaf ya, kan bukan aku yang ngatur takdir.
Dilema pertama aku itu waktu lulus SMP, maunya sekolah di SMAN 1 Sumedang. Cuma ya gitu, karna anak bungsu, perempuan lagi. Ngekost di pusat kota dinilai rawan, apalagi remaja sekarang tau sendiri kan. Salah gaul dikit aja kan bahaya. Ditawarin sekolah yang agak deketan biar bisa pulang pergi rumah, tapi nggak sreg. Sudahlah terima tawaran sekolah di Jakarta. Alasannya lebih aman tinggal sama teteh sekalian bantu jagain ponakan. Dari sini aku mulai ngerasa kalau bungsu itu gak ada bedanya sama anak pertama, kedua atau tengah. Masa SMA aku ya cuma sekolah, ngerjain PR, ekskul, ngurus keponakan, masak buat keluarga dan bantu kerjaan lain selagi Teteh kerja. Dari yang udah sekolah sampai yang baru lahir. Hari minggu, full mommy time. Sesekali bisa pergi jalan sama temen kelas itupun sangat jarang. Bisa kebayang kan anak kelas 1 SMA ditinggalin berdua sama bayi baru beberapa bulan (Obi) di rumah, dia nangis aku juga ikut nangis karna nggak ngerti harus gimana.. mulai dari lagu nina bobo, ayun ayun ambing, sampai solawatan udah aku praktekkin buat bikin Obi tidur. Dan iya bener Obi tidur, cape kali denger tantenya bersenandung.. qiqiqi…
Tapi di balik cerita-cerita seru SMA itu, ada hak yang hilang dari kehidupanku. Selama tiga tahun sekolah, satu kalipun orang tua atau teteh gak pernah datang ke sekolah buat rapat atau ngambil raport. Iya, orang tua di Sumedang dan Teteh gak bisa ninggalin kerjaan. Aa Ipar yang selalu ke sekolah bahkan pernah sekali raportku diambilin sama ibunya temen sekelas. Satu-satunya harapan pas wisuda, yang datang Aa Agus. Padahal pengen banget, orang tua datang ngeliat aku pakai baju kebaya, dan maju ke atas panggung nerima medali.
Apa yang hilang?? Rasa syukur terkikis, iri ngeliat temen kemana-mana didampingi orang tua yang masih muda.
Hal ini juga berlangsung sampai kuliah, ngurus apapun sendiri. Aku dianggap mandiri dalam hal-hal yang tertentu. Tapi tetap dianggap anak kecil, pun dalam hal-hal tertentu. Aku baru akan dianggap dewasa, mungkin setelah menikah. Karenanya, di umur 19 tahun aku udah izin kalau seandainnya ada seorang yang meminangku, mohon untuk direstui. Bukan karena aku ambisius, terburu-buru atau mengejar nafsu, ini karena keadaan. Andai aja aku lahir sebagai anak pertama, aku bisa santai dulu, mengejar S2, bekerja untuk membalas kebaikan orang tua atau membantu sekolah adik. Tapi karna aku anak bungsu, ada rasa ketakutan yang mungkin gak dimiliki anak-anak lain. Aku harus menyaksikan orang tua semakin lemah setiap harinya, bahkan setiap detik bersama mereka merupakan hal berharga bagiku. Memang, umur hanya Allah yang tahu, entah nanti apakah orang tua atau aku yang lebih dulu menghadap-Nya. Namun cita-cita terbesarku saat ini, ingin menyaksikan orang tua ada di saat aku dinikahkan, seperti kedua tetehku. Berharap jika suatu hari engkau harus pergi menghadap-Nya, seseorang akan membantuku berdiri dan menyeka air mataku, serta engkau tak perlu cemas mencari siapa yang akan melindungi gadis terakhirmu. Semoga Allah berkenan mengabulkan do’a-do’a kita, memberikan kita umur panjang serta sehat.. aamiin..